Logo

Membasuh Iman di Rumah Tuhan, Menyembuhkan Bumi dari Desa

10 Januari 2026

Boyolali, 10 Januari 2026 - Pagi di Boyolali belum sepenuhnya hangat, namun deru sapu lidi yang beradu dengan aspal dan tawa renyah antarwarga sudah memecah kesunyian. Di sebuah sudut, seorang pemuda tampak bahu-membahu dengan warga lainnya mengangkut tumpukan sampah, sementara yang lain sibuk membersihkan pelataran rumah ibadah dengan semangat gotong royong yang kental. Pemandangan ini bukan sekadar kerja bakti biasa, melainkan simfoni kepedulian dalam tajuk Bhakti Desa Bersih-Bersih Rumah Ibadah yang digelar serentak di 29 kabupaten/kota se-Jawa Tengah menjelang peringatan Hari Desa 2026.

Gerakan masif yang diinisiasi oleh Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) dan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menjadikan rumah ibadah sebagai episentrum perubahan. Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular KLH/BPLH, Agus Rusli, menegaskan bahwa rumah ibadah memiliki peran strategis dalam kehidupan sosial masyarakat desa karena menjadi ruang berkumpul dan berinteraksi lintas kelompok.

“Ketika kebiasaan menjaga kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan dimulai dari rumah ibadah, pesan tersebut akan lebih mudah diterima dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat,” jelas Agus Rusli.

Bagi KLH/BPLH, menyentuh sisi spiritualitas warga adalah cara paling efektif untuk melakukan transformasi budaya kebersihan dan mendorong pengelolaan sampah berbasis desa dan masyarakat. Melalui keterlibatan langsung, warga diajak membangun rasa memiliki terhadap fasilitas publik sekaligus memperkuat kebiasaan hidup bersih. Di tengah suasana kebersamaan lintas agama, warga bekerja berdampingan membersihkan tempat wudhu, sanitasi, hingga saluran air, membuktikan bahwa lingkungan adalah titik temu yang menyatukan.

Nuansa haru terpancar dari I Wayan Sukarja, seorang tokoh agama di Boyolali. Ia memandang aksi ini sebagai bentuk perhatian nyata pemerintah terhadap akar rumput yang membangkitkan semangat menjaga alam melalui relasi iman.

“Dengan adanya kegiatan aksi bersih rumah ibadah ini, kami tentu sangat senang dan berbunga-bunga karena merasa diperhatikan oleh pemerintah pusat. Kami juga berkomitmen untuk terus menjaga kelestarian lingkungan di sekitar rumah ibadah dan lingkungan desa kami,” ujar I Wayan Sukarja dengan tulus.

Komitmen ini menjadi bahan bakar bagi KLH/BPLH untuk terus mendorong penerapan ekonomi sirkular di pedesaan, di mana sampah tidak lagi menjadi beban, melainkan sumber daya yang dikelola secara mandiri oleh warga. Harapan besar kini tertumpang pada pundak masyarakat desa sebagai fondasi pembangunan Indonesia. Peringatan Hari Desa 2026 pun dimaknai sebagai momentum untuk menegaskan kembali bahwa desa adalah pelaku utama dalam menjaga harmoni sosial dan lingkungan lokal.

Agus Rusli menekankan bahwa gerakan serentak ini tidak boleh berhenti sebagai kegiatan sesaat, melainkan harus berkembang menjadi gaya hidup kolektif.
“Desa adalah fondasi pembangunan Indonesia. Jika desa mampu menjaga kebersihan dan lingkungannya secara mandiri, maka pembangunan yang berkelanjutan akan lebih mudah diwujudkan,” pungkasnya.

Dari pelataran rumah ibadah di Jawa Tengah, sebuah pesan kuat dikirimkan ke seluruh penjuru negeri: menjaga kesucian rumah Tuhan dan kelestarian bumi adalah satu tarikan napas yang tak terpisahkan.
 

Galeri Foto

Additional image
Additional image
Additional image
Additional image