TERNATE – Ternate menjadi saksi betapa sejarah besar dan teknologi lingkungan dapat berjalan beriringan. Di bawah langit Halaman Kadaton Kesultanan Ternate yang sarat nilai historis, perayaan Hari Jadi Ternate (Hajat) ke-775 pada Senin (29/12) menjadi momentum penting bagi akselerasi kebersihan di wilayah kepulauan Indonesia Timur. Kehadiran Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi dan Maluku (Pusdal LH - Suma), Azri Rasul, yang mewakili Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, bukan sekadar seremonial, melainkan membawa misi besar penguatan ekologi di "Kota Rempah". Sebagai bentuk nyata dukungan pusat ke daerah, sebuah alat berat ekskavator resmi diserahkan kepada Pemerintah Kota Ternate sebagai instrumen vital untuk membenahi tata kelola sampah di titik hilir.
Langkah ini merupakan jawaban konkret Kementerian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) terhadap tantangan pengelolaan sampah di wilayah kepulauan yang memiliki karakteristik unik dan kompleks. Dalam prosesi yang disaksikan langsung oleh Sultan Ternate Hidayatullah Syah, Azri Rasul menekankan bahwa Ternate adalah gerbang penting Maluku Utara yang harus dijaga martabat lingkungannya. Bantuan ekskavator tersebut dirancang untuk mempercepat sirkulasi penanganan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) agar tidak menumpuk dan mencemari ekosistem pesisir.
Penyerahan bantuan ini semakin lengkap dengan dukungan dari Pemprov Maluku Utara berupa dua unit kontainer sampah yang diserahkan oleh Sekda Prov Malut, Samsuddin A. Kadir, menciptakan sinergi lintas level pemerintahan yang harmonis.
“Kami hadir membawa mandat langsung dari Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq, untuk memastikan bahwa pembangunan di kota bersejarah seperti Ternate harus selaras dengan perlindungan alam. Ekskavator ini adalah motor penggerak agar wajah Ternate tetap lestari sebagai pusat rempah dunia yang bersih,” tegas Azri Rasul di sela-sela suasana khidmat upacara. Ia juga membedah tema HAJAT ke-775, "Melestarikan Budaya Tanah Leluhur", dengan perspektif edutainment. Menurutnya, menjaga lingkungan bukan sekadar urusan teknis dinas kebersihan, melainkan manifestasi kearifan lokal masyarakat Ternate dalam menjaga gunung dan laut yang telah diwariskan turun-temurun.
Kaitan erat antara budaya dan ekologi inilah yang menjadi ruh dalam kebijakan KLH/BPLH saat ini. Azri Rasul mengibaratkan keduanya sebagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan; tradisi menjaga alam adalah modal sosial, sementara bantuan infrastruktur adalah alat pendukung modernnya. KLH/BPLH berkomitmen memfasilitasi sarana prasarana agar nilai-nilai leluhur dalam menjaga alam tetap relevan dengan manajemen lingkungan modern yang serba cepat.
Wali Kota Ternate, M. Tauhid Soleman, bersama Sultan Ternate pun memberikan apresiasi tinggi atas atensi luar biasa dari pemerintah pusat. Dukungan alat berat ini dipandang sebagai "amunisi" baru bagi pemerintah kota untuk mewujudkan visi Ternate yang berbudaya, bersih, dan bermartabat di mata dunia.
Tak hanya soal mesin dan alat berat, kemeriahan hari jadi ini juga menyentuh aspek kemanusiaan melalui pemberian santunan bagi petugas kebersihan—sang pahlawan lingkungan—serta bantuan perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Dengan kolaborasi apik antara KLH/BPLH, Pemprov, dan Pemkot, Ternate kini bersiap melangkah ke babak baru pengelolaan lingkungan yang lebih progresif dan berkelanjutan.